Hentikan Pembajakan Perangkat Lunak (Stop Software Cracking)

logos-distros-750x422

Sumber gambar : http://www.ulaskom.net/

Salah satu hal yang membuat saya prihatin dalam dunia IT di Indonesia adalah pembajakan perangkat lunak (software cracking) yang sudah dianggap biasa di kalangan masyarakat kita. Pada beberapa kegiatan pelatihan yang diselenggarakan oleh organisasi resmi, misalnya pelatihan desain grafis pesertanya difasilitasi untuk menginstall perangkat lunak grafis bajakan. Bukankah akan lebih baik apapun kegiatan pelatihan yang menggunakan perangkat lunak jika menggunakan perangkat lunak bebas dan terbuka (bukan bajakan). Setidaknya selain memberikan ilmu dan keterampilan pada peserta, acara tersebut akan bisa mengurangi tindakan pembajakan perangkat lunak.

Selain itu, banyak juga jasa installasi perangkat lunak yang menggunakan perangkat lunak bajakan. Bahkan mereka terang-terangan menyebutkan “plus aktivasi, crack, keygen, dll”. Banyak juga website yang menyediakan perangkat lunak beserta “crack, keygen, serial, dll”. Dalam tulisan ini saya tidak bermaksud untuk mengintimidasi siapapun, saya hanya menyampaikan pendapat saya terkait pembajakan perangkat lunak.

Menggunakan Bajakan = Mencuri, Korupsi

Saya yakin semua keluarga, ayah, ibu, kakak atau siapapun tidak mengajarkan kita untuk mencuri. Tetapi apakah menggunakan perangkat lunak bajakan bukan termasuk tindakan mencuri? Jika harga Windows 10 Pro sekitar 2.6 juta dan kita menggunakan Windows bajakan maka bukankah berarti kita mencuri 2.6 juta dari Microsoft, penjual dan siapapun yang terlibat dalam penjualannya. Jika harga Microsoft Office 2013 sekitar 3.6 juta maka kita mencuri 3.6 juta juga. Begitupun untuk CorelDraw, Adobe Photoshop dan banyak perangkat lunak lain.

Jika kita menganggap penggunaan perangkat lunak bajakan sudah biasa, apakah kita bisa menganggap jika ada pencuri yg mengambil uang kita juga hal biasa? Jika di dunia pendidikan tindakan mencontek dikatakan cikal bakal korupsi, maka di dunia IT penggunaan perangkat lunak bajakan adalah korupsi yang nyata.

Linux itu Ringan

Pertanyaan yg pertama kali semua orang tanyakan ketika saja ajak menggunakan Linux (mungkin termasuk Anda jika Anda belum pernah mencoba Linux) adalah “Linux berat ngga di laptop? Laptop guwe low spec”. Sistem operasi Linux bermacam-macam, dari yang DE (desktop environment) ringan sampai yang cukup berat, dari yang untuk server maupun PC (personal computer). Jika Anda ingin menggunakan Linux yang ringan silahkan coba BlankOn (distribusi linux yang dikembangkan di Indonesia), ElementaryOS, ataupun Ubuntu Mate. Saya yakin ketiga distribusi Linux tersebut sangat ringan. Saya sudah melakukan testing untuk laptop dengan low spec.

Mulailah Beralih

Mulailah menggunakan LibreOffice untuk menggantikan Microsoft Office bajakan kita, Inkscape untuk menggantikan CorelDraw bajakan kita, GIMP untuk menggantikan Adobe Photoshop bajakan kita, dan mulailah beralih menggunakan Linux untuk menggantikan Windows bajakan kita. Untuk para pendidik, apapun jenjangnya, mulailah mengenalkan anak-anak didik kita dengan perangkat lunak bebas dan terbuka. Untuk para orang tua, belikan anak-anak kita komputer dan perangkat lunak bebas dan terbuka serta kenalkan mereka. Untuk para developer program, mulailah kembangkan program untuk platform Linux.

Mulai cintai produk-produk dalam negeri. Bukankah kita punya banyak distribusi Linux? BlankOn, SekarOS, UGOS, IGOS, dll. Besar harapan kami untuk dapat menjadikan Linux sebagai Sistem Operasi Nasional dan tidak ada lagi pembajakan perangkat lunak yang dianggap legal.

Jangan Takut

Jangan takut beralih ke Linux karena ada paradigma yang menyatakan bahwa Linux itu sulit. Banyak forum pengguna Linux baik di sosial media maupun website forum. Disana kita semua adalah keluarga, keluarga yang akan saling tolong menolong dan saling memberi solusi ketika ada anggota keluarga yang kesulitan. Banyak juga website-website yang memberikan banyak informasi terkait Linux.

Penutup

Tulisan ini saya buat sebagai ajakan untuk mulai berhenti menggunakan perangkat lunak bajakan. Jika memang kita tidak sanggup untuk membeli lisensinya, maka lebih baik baik menggunakan perangkat lunak bebas dan terbuka (free & open source software).

Saya memang belum bisa menggunakan Linux sepenuhnya, karena masih banyak tuntutan tugas yang mengharuskan saya menggunakan aplikasi-aplikasi Windows. Tetapi saya berkomitmen di masa depan saya akan beralih sepenuhnya ke GNU/Linux.

Tulisan ini saya buat secara offline menggunakan LibreOffice Writer di Linux Mint, tanpa sedikitpun saya menggunakan perangkat lunak bajakan.

Setelah tulisan ini saya publikasikan, saya berkomitmen untuk tidak akan mengajarkan siapapun untuk melakukan pembajakan perangkat lunak (software cracking) ataupun memaksa murid-murid saya [nanti] untuk menggunakan software bajakan.

Semoga Allah menjaga kita semua, amiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *